Tulisan ini adalah lanjutan post sebelumnya mengenai analisa kelemahan proses bisnis yang ada di Penitipan X (Process Vulnerability Assesment : Commercial Parking Lot Sta. Pondok Cina)
Dalam paparan sebelumnya dijelaskan bahwa pintu masuk parkir hanya ada satu berukuran 1.5m, pintu tersebut juga menjadi pintu keluar sehingga PIC dapat dengan mudah mengontrol keluar masuknya kendaraan dan pengendara. Kita akan sedikit membuat perubahan proses disini, terkait adanya indikasi bottleneck yang jika terjadi pada jam “sibuk” akan membuat kemacetan kecil di sekitaran stasiun. Kenapa dikatakan indikasi? Karena statemen saya diatas memang belum valid sebab belum didukung data-data yang pasti. Untuk kondisi seperti ini, kita dapat menggunakan asumsi—tepatnya asumsi logis/ bisa juga dikatakan hitungan kasar yang make sense—sehingga saya bisa mengeluarkan statement diatas. Mari kita mulai hitung-hitungannya ☺
- Perkiraan luas penitipan adalah 600m2 (20x30m). bagilah area tersebut menjadi 2 besaran, yaitu area okupansi (space yang dihabiskan untuk penempatan kendaraan), dan space non-okupansi(space yang tidak terpakai untuk penempatan kendaraan—misalnya area helm, area selasar, dan area staff).
- Area penitipan helm dan area staff sendiri menghabiskan 10m2, jalan pemisah antar barisan motor ada 5 dengan lebar masing-masing 1 meter. Total area non-okupansi adalah 15m2.
- Sisanya 590m2 akan kita bagi ke 6 barisan motor, dimana 1 baris terdiri dari 2 kendaraan. (lihat gambar)
- Panjang sepeda motor standar(bebek/skuter) rata-rata adalah 1,4m dengan lebar 0.7m. jika dalam 1 baris ada 2 motor maka okupansi baris tsb adalah 1.96m2 untuk 2 motor. Untuk mempermudah 2 motor sebaris tersebut dapat kita sebut bundle saja. Jika kita bagi sisa area okupansi dengan okupansi 1 bundle maka akan didapat 301 bundle dalam 590m2, yang artinya penitipan X dapat menampung maksimal 301x2= 602 kendaraan per hari.
- Rule di penutupan X adalah, Buka Jam 5.00, tutup jam 8.00 pagi karena sudah penuh. Berarti setiap menit pintu tersebut akan dilalui rata-rata 3 kendaraan/min.
- Karena secara real pasti ada peak time(waktu dimana pengendara datang dengan jumlah massive), maka kita set peak timenya adalah 5.30-6.30, dimana 85% (perkiraan) dari kendaraan yang ditampung akan melewati pintu. Jadi hitungannya menjadi berubah yaitu 9 kendaraan/menit atau 1 kendaraan per 7 detik.
1 kendaran tiap 7 detik terdengar sangat mudah di handle, sepertinya ada yang saya lewatkan disini. Oh, kita terlewat menganalisa pengendara yang keluar dari pintu yang sama dan harus mengambil tiket parkir. Sederhananya setiap kendaraan yang masuk pengendaranya akan keluar, oleh sebab itu perhitungan diatas kita kali 2 maka “transaksi” yang terjadi di pintu tersebut menjadi 1 transaksi per 3.5 detik. Transaksi disini maksudnya adalah ada kendaraan masuk atau ada pengendara yang keluar, karena kendaraan yang masuk tidak dapat dibarengi dengan pengendara yang keluar, maka tiap transaksi harus dilakukan secara seri, satu per satu. Hal ini yang menjadi pemicu terjadinya bottleneck pada pintu masuk, karena tiap pengendara yang masuk mau tidak mau harus menunggu 3.5 detik sampai bisa masuk ke area parkir, menunggu pengendara yang sudah selesai parkir menyelesaikan urusannya di dalam dan keluar kembali agar okupansi area kembali menjadi maksimal. Hitungan diatas mungkin akan lebih jelas lagi jika menggunakan Queueing Theory, yang mana akan kelihatan berapa leadtime yang dibutuhkan oleh kendaraan yang mengantri, berapa total waktu yang dibutuhkan sampai motor ke X dapat masuk, dan menjawab pertanyaan yang paling krusial, apakah dengan 1 transaksi/ 3.5 detik tersebut dapat mengakibatkan kemacetan di pintu masuk penitipan. (mungkin hal ini akan kita singgun di lain waktu)
Saran sederhana yang bisa diterapkan disini adalah :
- Buatkan 1 pintu keluar, yang dibuka hanya untuk pengendara yang ingin keluar/ selesai menitipkan kendaaran. Bagaimana pengadaan pintu keluar tersebut tidak ada menimbulkan operational cost, karena yang kita lakukan hanyalah pengalihan resource yang tadinya stay di satu pintu masuk, sekarang stay di pintu keluar.
Resiko bottleneck dalam paparan diatas dapat lebih diminimalkan, selain itu juga dapat memperbaiki alur penitipan dan pengambilan agar lebih efektif.
- Mengenai ide awal tidak diperbolehkannya penumpang ikut masuk yang menurut saya sangat tidak feasible, solusiproses ini dapat di perketat dengan melakukan double check pada saat pengambilan yaitu wajib pengecekan STNK. Ada trade off disini yang mau tidak mau harus dilakukan, yaitu mengorbankan kenyamanan dan kemudahan konsumen. Karena apapun yang terkait dengan security pada sebuah proses akan selalu mengorbankan kenyamanan dan kemudahan.
No comments:
Post a Comment